Channelinfo.id– Sedikitnya wilayah 20 Desa dari 14 Kecamatan di Kabupaten Serang diterjang bencana alam selama terjadi cuaca ekstrem terhitung sejak 2 Januari hingga 5 Januari 2026. Meliputi bencana banjir, angin kencang hingga bencana pergerakan tanah yang menyebabkan 3.514 Kepala Keluarga (KK) dengan 11.700 jiwa terdampak.
Berdasarkan laporan dari Pusat Pengendalian Operasional (Pusdalops) pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang per Senin 5 Januari 2026 pukul 08.02 WIB, terjadi bencana Hidrometeorologi di Kabupaten Serang, meliputi bencana banjir, angin kencang, dan pergerakan tanah.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Serang Ajat Sudrajat dalam laporannya menyampaikan bahwa terjadi bencana di beberapa wilayah di Kabupaten Serang, terhitung sejak 2 Januari hingga 5 Januari 2026. Bencana, kata Ajat, diduga disebabkan turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai angin kencang secara berturut-turut sehingga menyebabkan terjadinya beberapa jenis bencana.
“Yang terdampak ada 20 Desa di 14 Kecamatan. Ada banjir, angin kencang, ada yang pergeseran tanah,” ungkap Ajat.
Ke-14 Kecamatan itu, disebutkan Ajat, meliputi Kecamatan Kibin, Kramatwatu, Padarincang, Lebakwangi, Ciruas, Tirtayasa, Pontang, Pamarayan, Mancak, Cinangka, Baros, Petir, Waringinkurung, dan Kecamatan Cikeusal.
Kondisi itu, lanjut Ajat, mengakibatkan banjir di wilayah dataran rendah. Kemudian, angin kencang menyebabkan pohon tumbang, serta terjadi pergerakan tanah di wilayah perbukitan Kabupaten Serang. Akibat kejadian bencana itu, kata Ajat, pihaknya langsung menerjunkan tim untuk melakukan asessment ke lapangan dan sudah mendata jumlah penduduk yang terdampak mencapai 3.514 KK dengan 11.700 jiwa, dimana di antaranya ada 313 warga Lanjut Usia (Lansia), serta 1.271 balita dan anak-anak.
“Tidak ada korban jiwa,” tegasnya.
Namun, kata Ajat, terjadi kerusakan dan kerugian rumah yang terdampak mencapai 3.164 unit. Kemudian, terdampak banjir mencapai 3.145 rumah, akibat pergerakan tanah sebanyak 13 rumah, serta akibat angin kencang mengakibatkan 6 rumah terdampak. Ada pun fasilitas umum yang terdampak bencana, disebutkan Ajat, meliputi masjid, musala, serta sekolah.
Selain itu, sambung Ajat, fasilitas lain yang terdampak meliputi akses jalan, pabrik tahu, pangling kayu, hingga sektor pertanian atau sawah yang terendam banjir. Atas kondisi itu, ditegaskan Ajat, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk penanganan dan pemulihan. Yakni, mengkaji cepat lokasi kejadian, penanganan pohon tumbang, evakuasi mandiri warga terdampak, penanganan awal longsoran oleh masyarakat, hingga pemantauan Tinggi Muka Air (TMA) pada hari pertama.
Kemudian, lanjut Ajat, pihaknya pada hari kedua berkoordinasi dengan lintas sektor, melakukan assesment lanjutan ke beberapa kecamatan, distribusi logistik oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Serang, koordinasi perbantuan dengan BPBD Provinsi Banten, kunjungan pimpinan daerah, hingga rapat evaluasi Pusdalops pagi dan sore.
Bahkan, kata Ajat, pada hari ketiga pihaknya kembali melakukan pemantauan lanjutan kondisi banjir dan longsor, penyedotan genangan air oleh Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), pengiriman perahu bantuan rapat evaluasi Pusdalops, hingga pengolahan dan pembaruan data.
“Kondisi terkini, sebagian warga terdampak melakukan evakuasi mandiri ke rumah kerabat atau tempat aman,” ungkap mantap Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ini.
Ajat juga menyebutkan, jika TMA di beberapa wilayah berkisar 5–45 sentimeter. Kemudian, beberapa kecamatan juga dilaporkan mulai kondusif, kondisi cuaca cerah berawan, data dampak masih dalam proses pembaruan oleh Tim Pusdalops. Pihaknya juga, kata Ajat, sudah melakukan peringatan dini kepada warga di wilayah berpotensi bencana. Berdasarkan informasi yang diterima Ajat, saat ini terpantau pertumbuhan awan konvektif di wilayah Kabupaten Serang bagian utara dan tengah yang berpotensi menyebabkan hujan sedang hingga lebat, disertai kilat dan petir, serta angin kencang dalam 2–3 jam ke depan.
“Kendala saat ini kami keterbatasan kendaraana operasional, sarana dan prasarana lapangan masih minim, lokasi kejadian tersebar di beberapa kecamatan, serta gangguan pada nomor utama operator Pusdalops. Untuk kebutuhan mendesak, diungkapkan Ajat, saat ini warga terdampak membutuhkan makanan siap saji, family kit, pakaian, obat-obatan, terpal, hingga material pendukung lainnya.
Ajat pun merekomendasikan agar status wilayah Kabupaten Serang segera ditetapkan Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, lakukan penguatan sarana dan prasarana lapangan, peningkatan kesiapsiagaan personel, rapat koordinasi lintas sektor, pembangunan tembok penahan tanah (TPT), hingga normalisasi dan perbaikan jaringan irigasi.
“Dalam penanganan bencana banyak unsur yang terlibat selain dari BPBD Kabupaten Serang, mulai dari BPBD Provinsi Banten, TNI dan POLRI, Basarnas, BBWS C3, Dinsos, PMI dan Tagana, Pemerintah Kecamatan dan Desa, hingga Relawan dan masyarakat,” pungkasnya. (Nc)



