channelinfo.id/- Provinsi Banten tercatat menghasilkan 8.126 ton sampah per hari, dimana sebanyak 3.263 ton sampah di antaranya terbuang sembarangan, baik melalui pembakaran terbuka maupun dibuang secara ilegal.
Demikian disampaikan Gubernur Banten Andra Soni dalam sambutannya pada acara peringatan World Clean Up Day (WCD) Indonesia 2025 di Desa Teluk Terate, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (20/9/2025) pagi. Acara dihadiri langsung Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurafiq dan jajaran Deputi KLH, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, serta para pejabat OPD terkait di Pemprov Banten dan Pemkab Serang.
Andra mengucapkan terima kasih atas dukungan penyelenggaraan peringatan WCD sebagai upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Menurut Andra, kebersihan merupakan bagian penting dalam identitas kompetitif daerah yang dapat membentuk citra positif daerah di mata publik, baik di mata wisatawan maupun investor. Di Kabupaten Serang, kata Andra, memiliki kawasan industri strategis, sehingga kegiatan aksi bersih-bersih pada peringatan WCD dapat membangun kesadaran seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
“Kami berharap, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kota se-Provinsi Banten dapat memulai program kegiatan yang meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan intensif,” harap politisi Partai Gerindra ini.
Kegiatan WCD, menurut Andra, seperti halnya kegiatan Eco-Community (komunitas ramah lingkungan berbasis pelatihan Green, gerakan Jumat bersih atau lomba memilah sampah di tingkat RT/RW. Pada penyediaan infrastruktur, Andra berharap, seluruh kabupaten kota mengembangkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), minimal Controlled Landfill atau sistem berupa peralihan open dumping menuju sistem Sanitary Landfill (sistem pengelolaan atau pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah), sehingga mendukung dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Beberapa hari lalu, lanjut Andra, pihaknya melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) Pengelolaan Sampah untuk menyatukan langkah strategis dalam penanganan sampah secara terintegrasi dan berkelanjutan.
“Provinsi Banten menghasilkan kurang lebih sekitar 8.126 ton sampah per hari, namun saat ini 13,4 persen atau sekira 1.092 ton yang terkelola dengan baik, sementara lebih dari separuhnya sekitar 3.771 ton masih ditimbun di Tempat Pemrosesan Akhir dengan metode Open Damping, dan 3263 ton sampah terbuang langsung ke lingkungan melalui pembakaran terbuka serta pembuangan ilegal,” ungkap mantan Ketua DPRD Banten ini.
Oleh karena itu, Andra berharap, pihaknya mendapatkan panduan, bimbingan serta bantuan dari Kementerian LH dalam pembangunan Pengelolaan Sampah Terpadu yang tidak hanya berupa infrastruktur fisik, melainkan juga peralatan, pendanaan, serta pendampingan teknis hingga integrasi program 3R (Reduce, Reuse, Recycle atau penanganan sampah tiga unsur yaitu ‘Mengurangi, Menggunakan ulang, dan Mendaur ulang’ sampah.
“Semoga kerja bakti memperingati hari bersih-bersih se-dunia tingkat Kabupaten Serang ini mampu membangun sinergi pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah berkelanjutan dan berkesinambungan yang dapat berkontribusi terhadap upaya kita bersama untuk mencapai Indonesia Bersih 2029,” harapnya.
Sementara itu, Menteri LH Hanif Faisol Nurafiq mengatakan, peringatan WCD Indonesia 2025 yang mengusung tema ‘Menuju Indonesia Bersih 2029’ sejalan dengan target Presiden Prabowo dimana Indonesia diminta mencapai bersih sampah di 2029 mencapai 100 persen. Kata Hanif, pengelolaan sampah merupakan isu nasional dan isu lingkunban yang perlu diselesaikan bersama, karena dampaknya yang sangat signifikan.
“Tadi Pak Gubernur menyampaikan ada sekitar 3.000 ton per hari sampah di kabupaten kota se-Provinsi Banten yang terbuang di lapangan. Artinya, kalau kita kali 365 hari, jadi hampir 1 juta ton per tahun sampah ini ada di sungai-sungai dan seterusnya,” ungkapnya.
Pekan lalu, diungkapkan Hanif, informasi di televisi bahwa ada 21 jiwa melayang di Bali, dimana salah satu penyebabnya terkait buruknya penanganan sampah, sehingga sampah menyumbat saluran drainase di kota yang padat penduduknya.
“Kita tentu ikut prihatin dengan peristiwa itu,” ucapnya.
Sementara di Tempat Pemprosesan Akhir Sampah yang hari ini dilakukan dengan Open damping, Hanif mengapresiasi Gubernur Banten yang terus menginisiasi Rakor dengan seluruh Bupati dan Wali Kota se-Provinsi Banten dan mendorong untuk segera mengkonservasi pengelolaan sampah dari Open Damping menjadi Sanitary Landfill, paling tidak Controlled Landfill untuk sampah yanhmg sudah lama menimbulkan dampak lingkungan yang cukup tinggi. Hanif pun bercerita bahwa bulan lalu terdapat satu korban jiwa melayang dampak dari buruknya pengelolaan sampah di TPA Galuga. Bahkan, lanjutnya, 20 tahun lalu dengan kejadian longsor TPA Leuwi Gajah menyebabkan satu desa hilang.
“Maka dari itu, penanganan sampah menjadi sangat penting. Saya terima laporan pada 15 September 2025, dari sejak 12 September di 29 Provinsi dan 299 Kabupaten Kota saat ini sedang melaksanakan aksi bersih bersih,” tandasnya. (Nc)


