Channelinfo.id – Inflasi di Provinsi Banten hingga pertengahan Oktober tahun ini di angka 2,31 persen atau masih berada dalam target nasional, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di 5,1 persen.
Demikian diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Ameriza M Moesa pada acara Peresmian Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2025 Banten di Desa Marga Mulya, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Rabu (29/10/2025).
Acara bertemakan ‘Peningkatan Produktivitas Pertanian Melalui Penguatan Prasarana dan Pemanfaatan Teknologi untuk Menjaga Stabilitas Harga dan Ketahanan Pangan Nasional’ itu dihadiri pejabat dari sejumlah OPD terkait di Pemprov Banten.
Kepala KPw BI Banten Ameriza M Moesa mengatakan, pihaknya ingin mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui penguatan sarana dan prasarana serta pemanfaatan teknologi. Gerakan tersebut tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas harga, melainkan juga meningkatkan kesejahteraan petani.
“Alhamdulillah, Inflasi di Banten saat ini masih terkendali di angka 2,31 persen atau masih berada dalam target nasional dan pertumbuhan ekonominya mencapai 5,3 persen atau lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di 5,1 persen,” ungkapnya.
Atas kondisi itu, Ameriza menekankan untuk mengantisipasi tiga tantangan utama, yakni keterbatasan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, biaya distribusi yang tinggi, serta perubahan iklim yang berdampak pada pola produksi. Oleh karena itu, menurut Ameriza, peningkatan produktivitas dan kelancaran distribusi menjadi kunci menjaga ketahanan pangan daerah. Ameriza juga memperkenalkan konsep ‘4K’, yakni Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
“Bank Indonesia bersama Dinas Pertanian dan pemerintah daerah terus menjalankan program konkret, di antaranya melaksanakan 462 kali Gerakan Pangan Murah di seluruh wilayah Banten,” ujarnya.
Ameriza juga mendorong kerja sama antar daerah untuk pasokan komoditas strategis seperti beras, ayam, telur, dan ikan, dan juga mengsubsidi angkutan guna memperlancar distribusi, serta mengadakan pelatihan dan capacity building bagi petani agar mampu beradaptasi dengan praktik pertanian modern berbasis teknologi.
“Kami ingin mendorong lahirnya petani milenial yang bisa mengelola pertanian dengan teknologi digital. Dengan cara kerja baru yang lebih efisien, hasil pertanian akan meningkat dan sektor ini kembali diminati generasi muda,” tandasnya.
Sementara itu, Asisten Daerah (Asda) Pemkab Tangerang Bidang Administrasi Umum Firzada Mahalli menyambut antusias kolaborasi BI Banten ldalam menjaga kestabilan harga pangan serta meningkatkan kesejahteraan petani. Menurut Firzada, GNPIP merupakan bagian penting dari upaya nasional menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan kestabilan harga pangan. Gerakan ini sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan sektor pertanian sebagai fokus utama. Menurut Firzada, peningkatan produktivitas pertanian akan berdampak positif terhadap kestabilan harga dan kesejahteraan petani.
“Hasil panen yang meningkat membuat harga pangan lebih stabil dan terjangkau bagi masyarakat, sekaligus mendorong daya beli petani serta ekonomi lokal,” ujarnya.
Firzada berharap, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk mewujudkan kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi daerah sebagai bagian dari langkah menuju Indonesia Maju 2045.(Ms/Nc)


