CHANNELINFO.ID — Bagi sebagian pembaca, luka adalah sesuatu yang ingin dilupakan. Namun bagi Setiawan Chogah, luka justru perlu ditanam—karena dari sanalah akar penerimaan tumbuh.
Novel debutnya, Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka, yang sebelumnya sempat populer di Wattpad, kini resmi hadir dalam bentuk cetak, dengan dua pilihan edisi: softcover dan hardcover. Buku setebal 246 halaman ini menawarkan pengalaman membaca yang pelan, lembut, dan menenangkan.
Dari Wattpad jadi Buku
Beberapa bulan lalu, novel ini lahir di platform daring Wattpad dan cepat menarik perhatian pembaca kategori sastra, psikologis, dan penerimaan diri. Bahasa yang jernih dan alur yang bernafas tenang membuatnya menonjol di antara karya yang bising. “Aku tidak bisa membaca cepat,” tulis salah satu pembaca. “Tiap adegan seperti film kecil.”
Kini, versi cetaknya bukan sekadar reproduksi digital, tetapi revisi dengan tambahan bab dan detail mikro—permintaan langsung dari sang penulis yang ingin “tidak ada lagi yang disembunyikan.”
Raif, Rumah, dan Luka yang Belajar Diam
Tokoh utama novel ini, Raif, adalah penulis sekaligus perenung. Ia tidak diceritakan dengan teriak atau amarah, melainkan lewat gerak kecil: menata kursi, menyiram bambu, menulis di buku kraft, atau menatap daun yang gugur. Tapi dari detail keseharian itulah, pembaca diajak menyusuri lapisan hidup yang lebih dalam—tentang kesepian, cinta yang tak bisa dinamai, dan iman yang diuji oleh keterbatasan mencintai dengan benar.
Chogah memotret kehidupan Raif dengan gaya yang pelan, nyaris seperti meditasi. Setiap bab diberi nama tanaman—Ficus virens, Santalum album, Olea europaea, Rosa chinensis minima, hingga Nepenthes mirabilis—bukan sekadar simbol, tapi cermin batin. Tiap flora menjadi representasi emosi: ketabahan, penerimaan, kesetiaan, dan kerelaan.

Bahasa yang Menyimpan Napas
Gaya penulisan Setiawan Chogah bisa disebut “Raifian tone”—ciri khas yang memadukan ketenangan, filosofi, dan permenungan harian. Kalimatnya tidak menggurui, tapi menuntun.
Ia menulis dengan kepekaan seorang pengamat taman: setiap kata dipilih agar tidak menyinggung udara.
“Novel ini seperti membaca kesunyian yang bisa disentuh,” tulis seorang pembaca Wattpad. Dan memang begitu adanya. Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka tidak meminta kita terburu-buru memahami, tapi membiarkan kita berhenti dan bernapas di sela baris-barisnya.
Cinta yang Tidak Memaksa Dikenal
Di tangan Chogah, cinta bukan perkara memiliki. Cinta adalah kehadiran yang diam, seperti akar yang bekerja tanpa perlu terlihat. Hubungan Raif dengan tokoh-tokoh lain—Rangga, Dinda, Keira, Ayra, dan Amar—dibangun dengan lapisan moral yang kompleks tapi manusiawi. Tidak ada hitam-putih. Hanya orang-orang yang berusaha tidak melukai, meski harus kehilangan.
Pohon-pohon yang Ditanam setelah Luka adalah novel yang tidak menawarkan klimaks besar. Namun setiap lembarnya mengandung denyut—sebuah slow burn literature yang menenangkan di tengah dunia yang serba cepat.
Dari Buku ke Hati Pembaca
Bagi pembaca yang pertama kali mengenal karya ini di Wattpad, versi cetaknya terasa seperti rumah kedua. Dengan desain sederhana, dua edisi (soft dan hard), dan bahasa yang tetap lembut, buku ini mempertegas pesan Chogah: tidak semua yang tumbuh harus berbuah, sebagian cukup meneduhkan.
Novel Pohon-pohon yang Ditanam Setelah Luka kini dapat dibeli melalui Tokopedia Setiawan Chogah.
Namun lebih dari sekadar buku, karya ini adalah undangan: untuk berhenti sebentar, menatap daun, mendengarkan napas sendiri, dan mungkin—menemukan rumah yang tidak lagi dicari di luar, melainkan di dalam dada yang perlahan belajar pulih.



