Channelinfo.id– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gencar mengembangkan literasi dan inklusi keuangan syariah. Kelompok Kerja Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah (POKJA LIKS) bentukan OJK pun didorong agar tahun ini fokus pada tiga hal agar semakin terarah, optimal, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi perekonomian masyarakat.
Demikian diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono pada kegiatan Pertemuan Pertama POKJA LIKS 2026 di kantor OJK, beberapa waktu lalu.
Turut hadir Ketua Badan Harian Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Kiai Muhammad Cholil Nafis, pimpinan dan perwakilan Organisasi Profesi/Kemasyarakatan Bidang Ekonomi dan Keuangan Syariah, perwakilan Asosiasi dan Self Regulatory Organization (SRO) Sektor Jasa Keuangan Syariah, Akademisi, Tokoh Perempuan, serta influencer/Key Opinion Leader (KOL) yang tergabung anggota eksternal, serta perwakilan Satuan Kerja (Satker) Kompartemen Syariah selaku anggota internal POKJA LIKS.
Dijelaskan Dicky, POKJA LIKS 2026 akan difokuskan pada tiga agenda utama, yakni menyusun strategi literasi dan inklusi keuangan syariah yang berbasis data, digitalisasi, dan kebutuhan masyarakat. Kemudian, mengintegrasikan literasi dan inklusi keuangan syariah dengan market conduct, pelindungan konsumen, dan financial health. Berikutnya, memperkuat sinergi antar-pihak agar menghasilkan langkah yang konkret dan dapat ditindaklanjuti.
Kata Dicky, POKJA LIKS mempunyai posisi khusus sebagai mitra strategis OJK, tidak hanya menjadi forum koordinasi, namun juga menjadi ruang untuk menyatukan gagasan, menggerakkan aksi, dan menghadirkan dampak nyata dalam peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah.
“Program POJKA LIKS ini diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan tetapi juga meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menggunakan produk keuangan syariah,” harapnya.
Menurut Dicky, literasi dan inklusi keuangan syariah harus berjalan bersama, dengan pengawasanmarket conduct dan pelindungan konsumen.
“Inovasi dapat berkembang secara sehat, dipercaya dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan aspek pelindungan konsumen,” ujar Dicky.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan OJK M Ismail Riyadi yang juga selaku Koordinator Utama POKJA LIKS menyampaikan bahwa sejak dibentuk pada 2024 POJKA LIKS berperan aktif merumuskan program edukasi serta inklusi keuangan syariah agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan mendorong perekonomian. Melalui rekomendasi, evaluasi, dan masukan yang disampaikan secara berkala, lanjut Ismail, POKJA LIKS memberikan perspektif substantif maupun strategis dalam penyempurnaan program kerja, perumusan inisiatif baru, serta penguatan arah kebijakan literasi dan inklusi keuangan syariah agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri.
Menurut Ismail, pelaksanaan program-program literasi dan inklusi keuangan syariah masih perlu untuk terus dikembangkan, terutama pemerataan jangkauan, keberlanjutan program, serta konversi pemahaman menjadi penggunaan produk keuangan syariah. OJK, kata Ismail, sudah melaksanakaan berbagai kegiatan LIKS untuk mendorong literasi keuangan syariah antara lain Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO), Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah), Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah (SICANTIKS), Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) dan School of Syariah (SOS).
OJK juga, lanjutnya, mendorong terlaksananya business matching keuangan syariah melalui Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS), dan Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS). Selain itu, OJK juga melaksanakan Syariah Financial Fair (SYAFIF) dan Expo Keuangan dan Seminar Syariah (EKSIS) dalam rangka mendorong pemanfaatan produk dan layanan keuangan.
“Kami OJK terus mendorong sinergi dan kolaborasi seluruh pihak sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan keuangan masyarakat,” tegasnya. (Nc)


